Mengenang Sapardi Djoko Damono

Hari Minggu yang lalu (19/7), dunia sastra kembali kehilangan salah satu maestronya. Sang penyair yang terkenal lewat puisi dengan judul Hujan Di Bulan Juni berpulang untuk selamanya. Sapardi Djoko Damono adalah seorang penyair yang layak mendapatkan apresiasi luar biasa. Bagi kita yang masih berada di bumi ini, beliau adalah teladan dalam berkarya.

Almarhum adalah sosok yang mengajarkan tentang ketekunan, keberanian dan kesederhanaan. Tiga hal utama yang sangat penting dalam menjalani dunia sunyi literasi. Berbicara masalah ketekunan, beliau adalah teladan yang sangat luar biasa. Selain sebagai pengajar, beliau juga bertekun dalam membuat karya-karya puisi sepanjang hayatnya.

Keberanian, kata ini adalah manifestasi dari keberanian beliau dalam memilih puisi dalam berkarya. Kita tahu sendiri bahwa puisi di negeri ini dalam keadaan yang memprihatinkan. Namun apa yang dilakukan oleh beliau, ia berani untuk menghidupinya.

Terakhir, kesederhanaan. Di dalam setiap kesempatan, beliau selalu menunjukkan kesederhanaannya. Berpakaian sederhana dan dekat dengan para penggemarnya. Bahkan beliau juga tak segan untuk menjual bukunya di setiap kesempatan. Sungguh, beliau sudah pergi namun apa yang ditinggalkanya akan selalu abadi.

Pada suatu hari nanti Jasadku tak akan ada lagi

Tapi dalam bait-bait sajak ini

Kau tak akan kurelakan sendiri

Pada suatu hari nanti Suaraku tak terdengar lagi

Tapi di antara larik-larik sajak ini

Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti

Impianku pun tak dikenal lagi

Namun di sela-sela huruf sajak ini

Kau tak akan letih-letihnya kucari

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *