Sejatinya Servis Sepeda Motor Itu Sama Deg-degannya Kayak Periksa ke Dokter

Jadi begini, beberapa waktu yang lalu. Saya menyempatkan diri untuk pergi ke tempat servis kendaraan bermotor. Maklum saja, menginjak umurnya yang ke tujuh tahun sepeda motor saya sudah sering kelelahan. Ya namanya juga umur, pasti bakalan ada penurunan performa dong! Persis kayak kita ini manusia. Semakin menua ya semakin mengalami penurunan dalam hal apa pun. Mulai dari kesehatan, hingga pelupa. Termasuk juga lupa bayar utang lho?

  Sepeda motor secara sah dan meyakinkan saya serahkan kepada bagian pendaftaran servis. Jadi ngebayangin seserahan pas lamaran. Duh! Oke, kunci sepeda motor sudah saya serahkan kepada petugas. Saya juga ditanyai keluhan apa saja yang dirasakan. Saya kemudian menjawab, kepala agak pening, hidung mampet, beberapa hati meriang. Petugas di bagian pendafttaran mengatakan bukan tubuh saya tetapi sepeda motornya. Oalah…saya baru paham, ternyata ini bukan klinik atau Puskesmas.

Beruntung petugas tidak mengambil kunci inggris yang ada di dekatnya dan mencoba menancapkannya ke kepala saya. Keluhan yang dirasakan oleh sepeda motor saya sebenarnya adalah servis rutin saja. Ganti oli, cek rem dan lampu. Ya yang wajar-wajar saja sih. Gak ada yang istimewa kok. Menurut saya pribasi sih gak perlu turun mesin atau malah ganti BPKB juga kok. Servis yang ringan-ringan ajalah.

Setelah mengantarkan sepeda motor menuju pit untuk diperbaiki kerusakannya, saya memilih untuk duduk menunggunya saja. Menunggu sepeda motor itu sebenarnya sama saja dengan melaksanakan gabut. Televisi yang dipasang volumenya kalah sama deru suara mesin sepeda motor. Mau cari sambungan wifi? Itu pun jika beruntung akan tersambung. Saya memutuskan untuk membaca koran sajalah. Saya membolak balik halaman tersebut, menyantap berita sekaligus iklan yang dituliskan di sana. Lumayan juga untuk menghabiskan kegabutan saya sih.

Tatkala sedang membaca berita, nama saya dipanggil oleh petugas bagian pendaftaran pakai pelantang pula. Nama saya jadi tersebar kemana-mana, kan jadi malu aku tuh. Saya kemudian menemui petugas bagian pendaftran, Sungguh hati ini berdebar, kabar apakah yang akan diberitahukan oleh petugas tersebut. Petugas sudah menenteng sebuah papan kayu dengan penjepit. Isinya adalah tumpukan kertas, mirip seperti rekam medis ketika kita sedang mengunjungi klinik, rumah sakit dan teman-temannya.

Petugas tersenyum menyambut kedatangan saya. Waaa ini, pertanda apakah? Kertas-kertas yang sudah disusun rapi oleh petugas bagian pendafttaran tersbut mulai dibuka-buka per lembar. Petugas pendaftaran kemudian menjelaskan bahwa sepeda motor saya ternyata perlu menjalani servis yang lumayan banyak. Dengan detail petugas tersebut menjelaskan dengan rinci apa saja yang rusak serta suku cadang untuk memperbaikinya. Tampaknya takdir berkata lain dengan harapan saya. Jadi tiba-tiba pengen nyanyi, kumenangis…membayangkan, betapa kejamnya dirimu atas diriku sambil ngasih quotes ala-ala gitu deh…

 

Pelan-pelan keringat saya mulai mengucur, bukan karena udaranya yang panas. Pikiran saya tertuju kepada dompet, tepatnya isi dompet. Gak mungkin juga saya terus kabur meninggalkan sepeda motor di tempat servisan. Atau malah sepeda motor saya malah mengajukan APS (Atas Permintaan Sendiri) menolak unt melakukan servis, dipikir kayak di rumah sakit aja.

Tibalah saat yang paling menegangkan, petugas tersebut menyatakan nominal yang harus saya bayar ketika mengganti semua suku cadangnya. Edaaann…lumayan juga yang harus dibayar, bisa-bisa saya mengajukan pinjaman ke Donald Trump. Tak mau kehilangan muka, saya mengiyakan untuk penggantian suku cadang. Tetapi yang paling mendesak saja, Kalau belum, tolong diakali, begitu kiranya jawaban saya. Petugas pendaftaran yang tadinya tersenyum lebar berubah menjadi tersenyum kecut.

Saya lantas berkeinginan untuk melanjutkan membaca koran tadi. Sungguh sial, koran tersebut sudah diambil orang lain. Tak ada pilihan lainnya, terpaksa kuota harus saya gunakan untuk menghibur diri sendiri menggunakan gawai yang saya bawa. Mungkin lain sewaktu servis saya membawa kantung tidur atau sekalian tenda sehingga bisa lebih asyik dalam menunggu.

Akhirnya sepeda motor selesai diservis. Syukurlah kerusakannya sudah bisa diatasi oleh para mekanik yang handal. Mantap nian! Servis kendaraan apa pun tetaplah memiliki sensasinya masing-masing. Ya bagi saya sih nyebutnya deg-degan. Tetapi yang lebih menyeramkan adalah ketika mendapati pertanyaan, mana pasanganmu yang seharusnya duduk di jok belakangmu.(*)

 

 

 

 

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *