Lerem, Cerita di Balik Kekerasan Terhadap Perempuan

Lerem, kata tersebut tampaknya masih terasa asing bagi telinga kita. Sebenarnya kata lerem merujuk kepada kondisi tenang dalam bahasa Jawa. Lantas apakah hubungan lerem dengan isu kekerasan terhadap perempuan? Menjadi sebuah pertanyaan besar bagi kita semua. Sebuah judul yang simpel namun akan sangat dalam sekali makna yang ingin diulas.

Dova Febriyanti atau yang lebih akrab dengan sapaan Dova Fes melakukan sebuah aksi nyata dalam dukungannya melawan kekerasan terhadap perempuan. Lerem sebenarnya merupakan sebuah buku yang diangkat dari skripsi. Membaca buku lerem seperti dimanjakan akan tapilan visual grafis dan tulisan yang kritis. Bukan sebuah tulisan yang membuat kita harus berpikir keras. Dova Fes menuliskan puisi singkat yang mampu menyayat hati dan pikiran kita melihat fenomena kekerasan terhadap perempuan.

Puisi-puisi singkat dan desain grafis yang ditampilkan seperti peluru-peluru yang ditembakkan secara bertubi-tubi kepada kita. Meluluhlantakan kesadaran, mengingatkan akan sebuah kenyataan pahit yang dialami oleh saudara-saudara perempuan kita yang sedang atau pernah mengalami kekerasan. Mereka diam seribu bahasa, memendam sakit yang mendera. Bayangkan saja, kekerasan terhadap perempuan itu harus dialami sejak umur remaja. Sebuah umur yang seharusnya masih bisa bersuka ria dengan teman sebaya bukan malah diruda paksa!

Sebuah nukilan dari buku Lerem sekiranya bisa dijadikan sebuah bahan permenungan kita semua.

Kembali ke rahim ibu
Pasti menyenangkan
Pasti menentramkan

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *