Diterima Kuliah di Jurusan Gak Terkenal, Bukan Berarti Kamu Gagal Kok!

Setiap memasuki jenjang pendidikan yang baru, kita sebagai manusia yang haus akan ilmu normalnya akan merasa antusias. Bukankah begitu seharusnya? Jika kalian tidak merasakannya, biarkan saja saya yang mengalaminya. Bolehlah saya sedikit berbagi mengenai pengalaman sewaktu menempuh pendidikan strata satu pada waktu itu.

Perjalanan memasuki jenjang strata satu alias S1 tidaklah semulus jalan tol Trans Jawa. Ada jalan berliku dan gronjalan yang harus dilalui. Zaman itu, ketika internet belum keren seperti sekarang ini. Para pemburu bangku kuliah harus bangun pagi untuk mendapatkan surat kabar. Buat apa coba? Kan lebih enak makan nasi gudeg sambil rasan-rasan.

Surat kabar sewaktu itu menjadi media yang memuat nama-nama yang lolos seleksi masuk ke perguruan tinggi. Ya walaupun zaman sekarang juga masih ada yang surat kabar yang memajang pengumuman tersebut. Tapi sensasinya beda lho! Dulu soalnya belum ada judul yang clickbait heuheuheu…

Di tengah kejadian bencana gempa 2006 yang melanda, saya masih sempat-sempatnya berburu surat kabar lokal. Akhirnya, perburuan saya berhasil dan direstui oleh ibu bumi. Sebuah koran sudah saya genggam. Hati deg-degan bak mau nembak gebetan. Pilihannya ya sama, ditolak atau diterima bung dan nona sekalian!

Perjuangan belum selesai sampai di situ. Setelah mendapatkan koran tersebut, hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah melatih kesabaran dan ketelitian mata. Bayangkan saja, di koran tersebut berisikan nomor pendaftaran dan nama peserta dituliskan dengan ukuran kecil. Mirip kayak barisan angka yang muncul di film The Matrix. Ya Allah cobaan apalagi ini.

Singkat cerita, nama saya tercantum dan dinyatakan lolos menjadi calon mahasiswa baru. Kalian pasti taulah, status mahasiswa baru akan sah dan valid ketika sudah bayar biaya kuliah. Setidaknya bahasa Jawanya, nyicil ayem. Walaupun ya itu masih calon, persis seperti calon menantu yang entah ujungnya jadi menantu ataukah malah mungkin mantan calon menantu.

Siapa sih yang gak pride, masuk universitas yang well sekali di seantero nusantara ini. Pastinya banggalah, setidaknya bisa buat pansoslah. Tapi setelah saya pikir-pikir setelah lulus, akhirnya ya rasanya sama saja sih. Gak pride-pride amatlah. B aja!

Sebenarnya masuk ke salah satu universitas impian dan terkemuka itu bisa kita gunakan sebagai salah satu strategi bertahan hidup melawan warganet yang julid dan budiman. Apalagi ketika seperti saya yang kuliah di jurusan yang kurang hits gitu deh.

Begini sekiranya percakapan yang terjadi.

“Kamu kuliah di mana sekarang?” tanya seorang teman.

“Wooo…UGM pastinya,” saya menjawab dengan nada agak congkak.

“Jurusan apa?” timpalnya.

“Antropologi,” jawab saya singkat.

“Woalah…ilmu yang mempelajari candi-candi dan gali manusia purba itu ya?”

“Bukan!”

“Yayaya…ilmu yang mempelajari tentang bintang-bintang dan ramalan ya?”

“Bukan juga woyyy,” jawab saya mulai ngegas.

“Lha terus apa?” tanya teman saya penasaran.

“Ilmu yang mempelajari manusia dan kebudayaan,” terang saya.

“Oalah, ada to jurusan kayak gitu. Baru tau saya.”

Plakkkk…pembicaraan terhenti.

Semenjak dari peristiwa itu, saya memahami bahwa jurusan yang dipilih kurang terkenal di pasaran. Apalagi buat cari gebetan, susyah. Cari gebetan teman sejurusan aja gagal mulu, mau pindah ke jurusan lain atau antar fakultas? Ha ming semakin ajur to lik!

Kemudian, saya teringat cita-cita luhur mengapa memilih jurusan ini. Tak boleh saya merutuk pilihan yang sudah terjadi. Saatnya menyalakan cahaya, mengusir kegelapan dan meneruskan bisnis pesugihan #ehhh gimana sih.

Selain menuntaskan studi di jurusan yang saya pilih tadi. Ada misi lain yang lebih penting untuk dilakukan, yakni mengedukasi kepada teman-teman bahwa jurusan yang saya pilih baik adanya. Bakat berdagang saya pun mulai terasah dengan sendirinya. Secara tidak langsung, saya menjadi sales marketing bagi jurusan. Alangkah senang hatinya ketika beberapa adik kelas mengikuti jejak saya. Karena tertarik dengan penjelasan yang saya berikan. Mungkin kalau dibuat sistem MLM saya sudah dapat reward. Hora umum!!!!

Refleksi lainnya yang bisa saya temukan ketika menempuh kuliah strata satu adalah keberhasilan kita dalam menyambut masa depan tergantung usaha dan kegigihan kita dalam menangkap peluang. Semuanya ada di tanganmu, bukan orang tua atau dosenmu lho. Toh sekarang banyak juga yang bekerja gak linier dengan ijazahnya.

                Pada dasarnya semua program studi itu memiliki porsinya masing-masing dalam memberikan sumbangan ke ilmu pengetahuan. Jadi tidak ada ilmu yang lebih unggul dibandingkan lainnya. Semuanya saling melengkapi. Semisal ketika teman-teman dari klaster sains sedang merekayasa agar turun hujan dengan caranya yang terukur dan sistematis. Dari klaster humaniora tinggal membakar dupa dan memanggil pawing hujan. Begitulah kiranya.(*)

 

 

 

 

 

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *