Menggagas Pendidikan Membebaskan di Era Revolusi Industri 4.0

Menggagas Pendidikan Membebaskan di Era Revolusi Industri 4.0

Setelah Gombong, perjalanan diskusi buku Membiarkan Tapi Membiarkan singgah di kota Muntilan. Mendung menggelayut serta hujan yang turun menjadi teman setia dalam perjalanan kami. Kekhawatiran juga sempat hinggap di pikiran kami. Apakah acara akan berjalan dengan lancar jika hujan mendera? Persis seperti ketakutan saat melepaskan buah hati kita berada di dunianya yang baru. Tampaknya niatan baik kami pun diamini oleh semesta. Hujan pun reda saat kami sudah sampai di lokasi diskusi.

Diskusi kali ini menghadirkan dua narasumber yang berkompeten di bidangnya. Romo Danang Bramasti, SJ selaku direktur Kanisius Magelang dan sekitarnya. Yang kedua adalah HJ. Sriyanto, penulis buku Membebaskan Tidak Membiarkan serta guru berprestasi tingkat nasional.

Mengusung tema pendidikan di era digital, Romo Danang Bramasti, SJ sebagai pembicara menuturkan bahwa walaupun sekarang ini dunia sedang memasuki era 4.0, kita tidak boleh melupakan roh atau akar dari sebuah proses pendidikan. Dengan tegas, beliau mengatakan bahwa siswa ataupun anak haruslah memiliki dasar literasi yang kuat. Hal ini bertujuan untuk menguatkan logika yang seharusnya menjadi dasar di dalam menjalani kehidupannya, termasuk juga pendidikan. Romo Danang juga membagikan pengalamannya selama bertemu dengan siswanya. Memberikan sebuah pendidikan yang berbasis pada pengalaman langsung di lapangan. Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya memahami tingkatan pendidikan seorang anak. Jangan sampai pendidikan malah memaksakan kehendak kepada anak.

Pak Joyo sapaan akrab dari HJ Sriyanto memberikan sebuah pandangan tentang pendidikan yang berbasis aktivitas. Sebagai seorang pendidik dan didukung pengalamannya, Pak Joyo mencoba memberikan solusi untuk macetnya pendidikan di negeri ini. Pendidikan berbasis aktivitas sebenarnya merupakan hal dasar untuk pendidikan kontekstual. Siswa atau anak diajak untuk mengalami sendiri terkait sebuah proses. Sehingga nantinya orang tua ataupun guru akan menjadi verifikator dan validator dari proses yang mereka alami. Pada kesempatan itu pula, Pak Joyo juga menegaskan pentingnya adanya ruang yang perlu dimunculkan antara anak dan orang tua ataupun guru dengan murid. Harapannya adalah munculnya saling keterbukaan dan kepercayaan satu sama lain. Karena anak-anak di era digital identik dengan kecepatan, pungkasnya.

Diskusi berjalan dengan meriah walaupun sudah mendekati separuh malam. Banyak gagasan yang dimunculkan oleh para peserta mengenai pendidikan kontekstual. Sungguh, Muntilan telah memberikan energi positif untuk perkembangan pendidikan di negeri ini. Benar adanya bahwa pendidikan di negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Ketika Paulo Freire mengajarkan bahwa pendidikan adalah untuk mewujudkan kebebasan bukan sebuah penindasan. Tetapi tampaknya wacana tersebut masih sulit dicapai di negeri ini. Jika tidak ada kegelishan dalam dunia pendidikan maka lebih baik tidak perlu ada yang namanya pendidkan. (*)

 

You might also like

One thought on “Menggagas Pendidikan Membebaskan di Era Revolusi Industri 4.0”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *