Ini Lho! Makna Angka 9 Di Balik Iklan Pernikahan

Hari Sabtu kemarin, saya memutuskan untuk berangkat mencari sesuap nasi lebih awal. Selain ingin menikmati jalanan Jogja yang relatif sepi, saya ingin menyempatkan diri sarapan di sekitaran Mrican. Sudah lama rasanya tak bercengkerama dengan ibu penjualnya yang ramah.

Sepeda motor matik kesayangan yang merupakan hasil cicilan masih menemani dengan setia. Tibalah saya di sebuah perempatan jalan dan mengharuskan berhenti. Siapa sih yang gak gabut nungguin lampu hijau menyala. Lantas saya menengok ke kiri dan kanan, semuanya berboncengan. Mereka larut dalam obrolan yang asyik. Namun nasib baik belum berpihak kepada saya, tas punggung dan jok motor yang kosong masih menjadi sahabat sejati.

Menuntaskan rasa kesepian saya yang tak memiliki boncengan. Mata saya tiba-tiba ditarik, seperti ada energi astral yang menuntun saya. Kemudian saya melihat sebuah iklan di baliho dengan latar putih. Tulisannya dicetak dengan tinta hitam, dipertebal lagi. Kira-kira begini bunyi iklan tersebut.

PAKET PERNIKAHAN LENGKAP HANYA Rp 13.499.999,99

Belum selesai saya meratapi nasib yang tak punya boncengan. Hati saya kembali teriris, ibarat luka yang diberi perasan jeruk nipis. Tak memiliki pasangan, melihat iklan pernikahan, ehh kok ya besok pagi dapat undangan pernikahan teman. Pas banget! Remuk…

Baiklah saatnya kita membahas iklan pernikahan tersebut. Setelah saya amati di beberapa iklan pernikahan yang saya temui namun tidak sempat diwawancarai. Angka dengan akhiran 999 sangat banyak ditemui. Mulai dari prewed, katering bahkan hingga gedung. Apakah mereka ini sekte pemuja angka 999? Mbuhh ra dong

Seperti rindu yang harus segera dituntaskan maka begitu pun dengan rasa keingintahuan saya. Sesampainya di tempat kerja, saya segera mencari referensi mengenai makna angka 9 tersebut. Kok masih saja digunakan. Masak di zaman sekarang ada mata uang nominal satu sen? Heloooo…

Ketika kalian membayar paket dengan akhiran 999, apakah kalian juga bakal dapat uang kembaliannya? Yang ada kalian bakal nombok deh. Semisal uang kembaliannya juga diganti permen, saya rasa harga permen juga gak satu sen.

Oke deh, kembali ke masalah angka 9 yang menjadi inti dari segala inti tulisan ini. Menurut kebudayaan Tiongkok, angka 9 memiliki makna yang sangat bagus. Bagi mereka, angka 9 berarti sebuah pencapaian yang tertinggi dan simbol dari kesuksesan yang diidamkan. Lebih jauh juga angka tersebut membawa harapan akan kesejahteraan serta kebahagiaan.

Hal yang berkebalikan terjadi di Jepang. Para penduduk Jepang memiliki kepercayaan bahwa angka 9 merupakan angka yang tidak hoki. Mereka mempercayai bahwa angka 9 membawa dampak sial, penderitaan bahkan kematian. Ngeri juga ini.

Angka 9 yang dipampang dengan jelas iklan pernikahan sebenarnya merupakan sebuah refleksi yang dihadapkan kepada kita sebelum mantap melangkah ke jenjang pernikahan. Bagaimanakah kita akan membawa kehidupan setelah pernikahan? Menuju kebahagiaan atau malah menuju penderitaan?

Masih segar di ingatan kita, sebuah kasus di mana seorang bayi yang masih berusia 15 bulan dengan tragis harus meregang nyawa. Setelah tiga kali dilempar ke tembok oleh ayahnya sendiri. Ketika ditanyai polisi alasannya dia sedang bercanda. Kasus tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa pernikahan itu tak selalu berujung dengan kebahagiaan. Di luar sana masih banyak kasus yang muncul setelah pernikahan terjadi.

Semua pasangan tentunya berharap agar setelah menikah kehidupan menjadi lebih baik dan menyenangkan. Kita memiliki pasangan yang akan menua bersama serta berbagi cerita. Maka dari itu ketika membicarakan pernikahan tidak bolehlah gegabah. Bukan hanya sekadar sah! Kehidupan setelah pernikahanlah yang akan menjadi ujian selanjutnya. Yakin kita sudah mapan dan menyiapkan semuanya?

Menikah itu ibarat investasi, kita harus memilih pasangan dengan sangat hati-hati. Menikah itu sudah tidak lagi membicarakan mengenai ego yang ada di masing-masing pribadi. Tetapi lebih kepada membangun ruang dialog di antara keduanya.

Saya meyakini dengan sangat bahwa angka 9 yang sengaja dipasang di iklan pernikahan merupakan doa dan harapan terbaik yang diberikan kepada mempelai. Sehingga nantinya setelah menikah mencapai kebahagiaan dan mensyukuri memiliki pasangan  yang digariskan Tuhan. Sebagai anugerah terindah yang pernah kumiliki, seperti kata Babang Duta Sheila on 7.

Menikah itu bukanlah sebuah balapan. Pernikahan adalah perkara kesiapan dan kematangan setiap pasangan. Bagi yang sudah menikah, jagalah dan bahagiakanlah pasangan. Menutup tulisan ini, izinkan saya menitipkan sebuah pesan. Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu sebuah pilihan. Happy wedding bagi teman saya yang akan segera melangsungkan pernikahan. Pilihan ada di tangan kalian berdua. Sedangkan saya? Tenang, masih tetap setia menjadi orang yang diberi undangan bukan memberikan undangan.(*)

 

 

 

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *