Ada Yang Salah Dengan Sekolah Kita

Ada Yang Salah Dengan Sekolah Kita

Sekolah di Indonesia bermasalah. Tidak hanya satu atau dua, tapi semua. Dimana letak permasalahannya? Banyak, mungkin sudah akut. Ibarat kanker, sekolah kita perlu dioperasi, diangkat kankernya, dikemoterapi dan diberi obat herbal secara berkala. Sayang, meski sekolah kita bermasalah, banyak orang enggan mengakuinya. Tentu saja, para pelaku pendidikan utamanya praktisi (guru dan kementerian pendidikan) adalah aktor utama yang paling enggan mengakui adanya kerusakan fatal pada institusi bernama sekolah.

Maka menjadi menarik ketika seorang guru, guru sekolah favorit pula, berani berteriak, “Hei, sistem   pendidikan kita bermasalah!”. Itulah yang dilakukan oleh guru SMA Kolese De Britto Herman Joseph Sriyanto lewat bukunya Membebaskan Tidak Membiarkan : Praktik Reflektif Mendidik Generasi Figital.

Jangan tertipu dari penampakan buku ini yang terkesan alus dan konservatif. Buku ini adalah salah satu gebrakan yang revolusioner meski penyampaiannya masih menghormati elemen elemen bermasalah dalam pendidikan. Banyak poin di buku ini yang penting untuk dibaca para pemangku kebijakan—yang mudah mudahan belum masuk angin karena berbagai kepentingan—.

Kenapa kita harus membaca buku ini? Begini, kalau kita berbicara soal masalah pendidikan, pasti terbesit tanya, apa indikasi utama kegagalan sekolah? Jawabannya sebenarnya simpel, output dari sekolah. Ketika anak lulus SD, dia belum bisa bekerja. Fokusnya adalah mencari SMP favorit. Ketika dia lulus SMP, skillnyapun belum cukup, dia mencari SMA favorit. Setelah lulus SMA, kalaupun dipaksa bekerja, tak semua layak digaji untuk standar UMR sekalipun. Setelah selesai kuliahpun, kemampuan mereka di dunia professional juga tak serta merta matang. Miris! Sekolah gagal bahkan untuk level termudah sekalipun. Sekolah tidak berhasil mencetak standar lulusan yang bisa bekerja dengan baik. Padahal kita bersekolah dengan harapan menjadi professional yang baik dan mencari nafkah lewat itu.

Lebih miris lagi, ironisnya, malah banyak orang yang tak bersekolah malah lebih pintar mencari nafkah atau menjadi professional. Salah satu kawan bahkan menyebut sekolah itu racun dan merusak anaknya. Oleh karena itulah, saat anaknya menginjak kelas 4 SD, dia putuskan agar anaknya menjalani pendidikan homeschooling.

Sekolah seharusnya menjadi obat, bukan racun. Mengembalikan fitrah sekolah sebagai obat sebenarnya bukan masalah sulit. Yang penting ada kemauan dan juga panduan. Nah, buku karya H.J. Sriyanto inilah panduan tepat untuk menyembuhkan sekolah.

Agak bergeser sedikit. Banyak hal menarik dari buku ini selain poin poinnya. Salah satu hal yang menarik adalah mengenai dinamika buku ini, kita bisa melihat transformasi seorang Pak Joyo, panggilan akrab H.J. Sriyanto. Ketika masuk ke dunia pendidikan, Pak Joyo mungkin menjadi bagian dari masalah dunia pendidikan. Artinya, dia terbawa arus juga dengan sistem dunia pendidikan kita yang carut marut ini. Hal itu ia tulis di bukunya ketika menjelaskan perubahan dirinya. Namun, berbeda dengan guru kebanyakan. Perlahan tapi pasti, Pak Joyo keluar dari belenggu sistem dan bisa melihat jernih kesalahan dunia pendidikan lewat pandangan Top View. Dari Top View inilah dia bisa menunjuk banyak poin yang harus diperbaiki dalam dunia pendidikan kita. Dan jujur saja, transformasi dari bagian masalah hingga kemudian menjadi solusi ini membuat buku Pak Joyo menjadi semakin menarik karena memberi pandangan yang holistik.

Beralih ke poin di buku ini. Tentu tak semua akan saya jabarkan di sini. Kalau saya jabarkan, nanti anda anda malah tak membaca bukunya. Hanya saja saya ingin menggaris bawahi garis besar dari poin poin yang dituliskan oleh Pak Joyo. Garis besar itu adalah bahwa pendidikan itu hasil kolaborasi. Sekolah tidak bisa mendidik anak anak dengan maksimal sendirian. Orang tua tidak bisa serta merta pasrah ketika anaknya masuk sekolah favorit. Guru selamanya akan terkekang jika kementerian masih bersikap masa bodoh dan pendidikan hanya digunakan sebagai instrumen kepentingan Kapitalis. Anak sendiri pribadi yang unik dimana mereka punya independesi sendiri tapi bukan berarti tak perlu diarahkan. Mau tahu cara berkolaborasi yang baik? Bacalah buku ini.

Akhir kata, mudah mudahan buku ini bisa menjadi sumbangsih berharga dalam memastikan majunya negara ini lewat pendidikan.

Salam,

Ardi Pramono

*). Tulisan ini dibagikan atas izin N. Ardiyanto Pramono

You might also like

3 thoughts on “Ada Yang Salah Dengan Sekolah Kita”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *