Apa Jadinya Jika Skripsi Dihapus?

                Mas Menteri Nadiem Makarim ini merupakan sosok yang luar biasa, setelah bermain dengan apik di lenong saat peringatan hari anti korupsi beberapa waktu yang lalu. Beliau kembali membuat gebrakan lagi. Menghapus ujian nasional. Sebuah ujian yang menjadi momok bagi siswa-siswa dari pendidikan dasar hingga menengah.

Permasalahan ujian nasional atau lebih beken disebut UN merupakan hal yang sangat rumit. Persislah kayak hubungan kalian yang tarik ulur terosss dan gak berujung. Sejak dari zaman dulu bernama EBTANAS, berganti dengan UAN, kemudian yang terakhir adalah UN. Ya pergantian nama bolehlah, anggap saja sebuah perubahan walaupun esensinya sama. Begitulah kiranya pembuat kebijakan bangsa ini, hobinya bikin nama aneh dan bikin singkatan-singkatan gitu deh..

Penghapusan UN tetaplah menjadi isu hangat yang akan mengundang pro kontra di masyarakat. Wajarlah tetapi itu terjadi. Tetapi ketika wacana penghapusan UN ini sedang merebak luas seperti layaknya sobat ambyar yang dengan mudahnya kita temui. Ini kok malah ada isu baru tentang penghapusan skripsi. Entah ide tersebut datang darimana tapi rasa-rasanya kok kurang mashook ya.

Penggabungan antara Kemendikbud dan DIKTI bukan berarti terus bisa membuat skripsi dihapuskan begitu saja. Memang tren akhir-akhir ini banyak fakultas yang sudah menerapkan pengganti skripsi. Entah mulai dari menulis jurnal, magang dan bentuk lainnya yang tentu bobotnya sepadan dengan skripsi.

Kalau kita mau berpikir lebih jauh dan jernih, sebenarnya skripsi itu keren lho. Sekarang gini, dari pendidikan dasar hingga menengah kita dipaksa untuk menjalani “ujian” yang sebenarnya adalah penyeragaman kemampuan kita semua.  Ukurannya sudah jelas adalah nilai (angka). Bayangkan saja dari ujung timur sampai ujung barat Indonesia harus memiliki kemampuan yang sama tanpa melihat konteks setiap daerah. Apa kalian semua gak bosan? Dari masih baju putih merah hingga putih abu-abu, tugasnya hanya menghafal!

Keberadaan skripsi sebenarnya bisa menjadi media kalian semua buat berekspresi, keluar dari penyeragaman dan menemukan sesuatu yang baru. Sebuah hal yang sangat lucu ketika membuat perbandingan antara penghapusan UN dengan skripsi. Ibaratnya bukan apple to apple tapi malah apple to manggis (bukan dalam bentuk ekstrak lho ya). Beda dong ranahnya!

Skripsi itu juga berguna untuk melatih logika dan kemampuan literasi yang kita miliki. Namanya juga kan sudah mahasiswa masa iya mau disamain dengan tingkat pendidikan sebelumnya. Pasti kan gak mau! Sebenarnya skripsi kan hal yang sudah biasa kita jalani sejak masih di sekolah dasar. Membaca dan menulis. Kita tinggal melakukan penelitian, cari referensi kemudian tuliskan. Apa mau skrispi diganti dengan sistem ujian nasional? Apakah mau ilmu yang didapatkan di perguruan tinggi dipangkas dan disamaratakan?

Fungsi lainnya dari skripsi adalah kalian semua bisa belajar mempertahankan argumentasi. Kapan lagi bisa debat bahkan profesor kalau gak pas sidang skripsi? Lha di kelas disuruh tanya diem, kalau pas sidang mau tidak mau, suka tidak suka kalian harus omong. Mempertahankan apa yang sudah ditulis. Di dalam sidang skripsi pulalah kalian akan belajar bagaimana mempresentasikan penelitian yang sudah dibuat. Kalian diajak untuk bisa mampu berbicara di depan umum dengan singkat, padat dan jelas. Jadi kalau besok wawancara sama calon mertua sudah lancarlah ya.

Bagi yang pernah dan akan mengarungi skripsi, tidak perlu takut. Jalani saja! Skripsi itu akan melatih daya juang serta kemampuan manajerial kalian. Percaya deh, ya biasanya tidak terbiasa begadang bakal ngerasain begadang. Berjuang mencari referensi yang langka demi skripsi, duhh itu sangat memuaskan sekali kalau sampai dapat bukunya. Kalian akan berjejaring dengan banyak orang atau bahkan komunitas untuk melengkapi data penelitian. Belum lagi kalau dapat kejutan dari dosen yang ingin bertemu secara dadakan dan kalian harus kelabakan menyiapkan bahan revisian. Jadi kemampuan mengatur waktumu akan sangat diperlukan.

Jadi gini, janganlah terburu-buru ikutan latah menginginkan menghapuskan skripsi dari dunia perguruan tinggi. Kalau menghapuskan inisiasi atau ospek yang berbau kekerasan itu malah lebih keren dan pasti banyak yang mendukung. Ya tapi kembali lagi sih kepada kalian mau gimana dalam menghadapi kehidupan ini. Mau dijalani atau menyerah begitu saja. Pilihan di tanganmu. Lha wong mau menghapus kenangan saja kalian pada masih kesusahan kok aneh-aneh mau menghapus skripsi. #eh… (*)

 

 

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *