Apa Jadinya Kalau Puisi Dijadikan Cara untuk Mengenang

Dari sekian banyak cara untuk mengenang banyak hal di hidup seorang pengarang, kenapa sih selalu ada aja yang memilih puisi? Tapi mungkin pertanyaan ini cukup lancang ketika ditanyakan, apalagi di zaman ketika semua orang dimungkinkan untuk membikin sebuah buku puisi; dan semua orang bisa menulis bait-bait penuh rima lewat medium apapun yang mereka gunakan.

Kamu tentunya akrab dengan Instagram atau Twitter, bukan? Selalu mudah bagi kita untuk menemukan puisi demi puisi – yang bisa jadi ditulis oleh seorang anak SMA – di kedua ranah media sosial tersebut. Sederhananya, puisi di zaman sekarang bisa diibaratkan seperti mie instan yang dijual di warmindo yang dikelola orang-orang asal Kuningan, Jawa Barat. Kita menemukan puisi dimana-mana.

Buku kumpulan puisi Selama Kata Berkata karangan Afrizal Ramadhan dan Wandi Saputra kurang lebih mewakili eksistensi puisi di zaman sekarang, dimana siapapun berhak berpuisi, bisa bisa menulis puisi dimanapun dan siapapun berhak menerbitkan buku puisi.“Sehari tanpa puisi adalah kekacauan”, kata Afrizal. Sebentuk penghormatan kepada puisi itu seolah-olah mau menempatkan puisi di tempat terhormat; yang selalu terngiang-ngiang di kepala; yang selalu minta ditulis;yang tanpanya kuranglah eksistensi kita sebagai manusia.

Tapi kok puisi, bukan bentuk yang lain; bukan video, lirik lagu, atau cerita pendek, misalnya? Afrizal bilang – dalam kata pengantar buku kumpulan puisinya itu – puisi adalah (upaya) untuk “membentuk. Entah untuk bahagia, sedih, atau mengabadikan kenangan, atau juga untuk berjuang.”

Saya jadi teringat masa-masa SMA. Ketika bahagia dan sedih bercampur jadi satu lewat momen demi momen, entah itu ketika dipanggil guru BP karena membolos atau ketika tak kunjung bisa menghafal sandi morse yang diajarkan ketika ekstrakurikuler Pramuka.

Namun pelan-pelan kebanyakan orang lupa wujud rasa bahagia yang muncul ketika dia berhasil melakukan sesuatu yang membuatnya bahagia. Namanya juga manusia. Setiap jengkal hidup kita dipenuhi momen yang datang silih berganti, menciptakan kenangan baru dan perasaan-perasaan baru. Perasaan-perasaan lama ditepikan begitu saja.

Ada sembilan puluh sembilan (99) puisi yang dimuat di Selama Kata Berkata. Setiap puisi yang mereka sajikan habis dalam sekali baca, dan tiap-tiap dari seratus puisi itu seringkali disajikan dalam satu-dua-bait dengan dua sampai empat baris.

Puisi mereka berdua hampir-hampir terasa seperti kudapan ringan yang habis dalam sekali makan. Tak perlu usaha keras mencernanya, dan mungkin bisa menjadi sedikit mengganjal rasa lapar sebelum waktu makan malam tiba.

Oke baiklah. Selama Kata Berkata adalah sebuah kudapan. Selesai menikmati kudapan, seseorang bisa memilih apakah ia akan membeli lagi kudapan yang sama, atau pergi keluar mencari yang lain.Tapi lebih dari sekadar kudapan, buku kumpulan puisi itu agaknya jadi sebuah percobaan untuk mengekalkan kenangan.

Puisi, bagi Afrizal dan juga Wandi, agaknya ditempatkan sebagai medium untuk mengekalkan memori dan rasa yang telah lampau – apapun itu wujudnya. Mungkin juga dia diperlakukan sebagai teman yang bisa dimiliki siapa saja.

Dan karena bisa dimiliki siapa saja, puisi jadi milik kita-kita juga.

Data buku:

 

Selama Kata Berkata

Afrizal Ramadhan & Wandi Saputra

Penerbit: Bakul Buku Indonesia

Jumlah halaman: 100 hlm.

Maret 2019

 

 

 

 

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *